Mengerikan rasanya, malam ini tak bisa menyelamatkan diri. Terdampar dalam relationship yang toxic bahkan benar-benar toxic. Enyahlah, Jika boleh meminta malam ini atau lebih cepat sebelum berlalu malam ini. Aku tahu aku salah jika meminta kematianmu, tapi sungguh aku menginginkan itu sempurna dan segera.
Jejakmu adalah rasa sakit dalam gaung ingatan, banyak dosa yang yang dicicipi karenamu.
Dasar predator, brengsek.
Mulutnu liar dan nakal, suka bermain-main atau menyakiti. Aku muak, ingin menyakiti dan melukai namun lagi-lagi itu tidak berhasil. Aku pikir kau terlalu berani dengan segala hal gila yang kau lakukan, kebohongan demi kebohongan, menimbulkan keributan dan perpecahan masih nyaman dengan hal itu.
Kau duri, seharusnya tidak pernah ada. Enyahlah brengsek. Tidak akan lagi ribut, itu bullshit. Asu, kenapa aku yang harus jadi korban? Aku menjadi pembunuh untuk diriku sendiri.
Dengan mata telanjang, aku selalu menyaksikan pertempuran demi pertempuran karenamu. Aku bertanya-tanya, apakah isi otakmu hanya tentang kedegilan serta kegilaan? Kau adalah definisi ketidaktahuan diri, Tapi entah mengapa, kau tak pernah cepat di bumi hanguskan dari dunia yang masih ada.
Kenapa harus hidup sesuka hati, padahal kau adalah seseorang yang tak berdaya, angkuh. Lagi-lagi pandanganku kalah terhadapmu, suram yang mendekapku dan tak berjalan dengan membebaskan jiwa.
Enyahlah, brengsek!
***
Rantauprapat, 23 Maret 2025
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar