Hampir menuju dua puluh empat jam pertanyaan ini mengganggu di kepala, sakit sesak dan tiba-tiba menangis, khawatir yang berlebihan. Pertanyaan bagaimana jika ibu sudah tidak ada, adalah alasan kenapa sudah sejak lama meminta kepada Tuhan, jika boleh lebih dulu pergi dan tidak ada di bumi ini adalah bukan ibu.
Sampai dengan pagi ini, di dalam frame lensa kehidupan ibu masih ada. Masih bisa merasakan romantisme dengan ibu, kasih sayang, ocehan-ocehan, pertengkaran kecil maupun besar, kemudian perbaikan, mendengar suara dan melihat senyumannya ibu, itu adalah kebaikan yang Tuhan percayakan. Namun, masih saja ada embel-embel yang membuat ketakutan itu makin besar, perlakuan yang diterima, juga bagaimana nanti itu menjalani hari ke depan terlebih tentang support system dan finansial, bagaimana jika Ibu sudah tidak ada? rumah bukan lagi rumah dan tidak lagi tempat pulang.
Dan bagaimana juga, jika yang lebih dulu pergi dan meninggalkan adalah benar-benar ibu? Benar-benar menjadi kesusahan, menangis, dan akan menjadi kesendirian yang tanpa batas. Merasa bersalah jika tidak menyelesaikan tanggung jawab setelah benar-benar jika ibu yang lebih dulu pergi, sunyi dan sepi, atau bahkan seperti batu cadas yang keras dan kaku. Berharap tang Maha mengijinkan, jika yang lebih dulu pergi itu bukan ibu.
Pagi ini, ketidaknyamanan terasa penuh di hati, ada sesal juga kenapa sebelum pertanyaan yang mengganggu di kepala ada, pernah memberontak bahkan pernah juga sulit untuk memaafkan ibu. Selepas pagi ini, semoga tidak lagi tersesat dan benar-benar benar dalam keharusan bersikap untuk ibu.
Bukankah ibu adalah seseorang yang sudah lalu lalang dengan segala kepahitan tanpa keluhan. Dan Hampir seluruh waktu yang dijalani ibu adalah tentang berjuang dan meninggalkan rasa sakit, demi tanggung jawab dan kewajiban yang bukan seharusnya dipikul oleh ibu.
Pada akhirnya, masih berharap yang benar-benar lebih dulu pergi itu bukan ibu. Yang dirasakan adalah lebih baik meninggalkan, karena jika yang lebih dulu pergi adalah bukan ibu, dunia akan baik-baik saja, tidak ada kesusahan yang harus dihadapi, karena ibu bisa berdiri sendiri dan bisa berjalan sendiri, dan ibu bukan tunawisma yang harus diurus dari hal-hal kecil, tapi entah apa yang disemogakan dan diharap akan terjadi di dalam poros waktu kehidupan.
***
Rantauprapat, 03 Februari 2026
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar