...
Ketika aku tak mampu melukiskan segala rasa terhadap orang lain, aku akan menulis puisi. Menabur kata demi kata yang tergambar dinalarku. Puisi itu adalah wadah bagiku untuk melepas isi di jiwaku.
Terkadang aku tertunduk dan menenggelami diri dibalik nestapanya kehidupan. Namun, aku tetap bahagia bersama puisi. Bagaimana tidak, aku bisa menyusuri tepian waktuku dengan merangkai puisi. Bermula dari luka menuju kata, berakhir pada aksara dan tercantum sebagai karya di perjalanan hidup.
Bagiku, puisi itu memiliki sinar cahaya yang bisa terpancar pun bergema.
Sepenuh hati!
Kutahu bersama puisi, aku merasa damai di dalam kebisingan.
***
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar