Senin, 21 September 2020

Sepotong Kisah dari Seorang Perempuan yang Menyukai Puisi

@kulturtava
...
Lama perempuan itu tak meneteskan air mata. Tapi hari ini, senin di hari yang kedua puluh satu bulan September kau berhasil menghadirkan air mata di wajahnya. Perempuan itu kembali meneteskan air mata siang ini.

Hari ini, kau kembali mengulangi sejarah yang dahulu. Sektika perempuan itu diam membisu, tak lagi mampu berkata-kata mendengar apa yang kau ucapkan. Melihat kenyataan tentangmu yang tidak akan pernah menepati janji 

Ingin rasanya, perempuan itu mengungkit cerita yang dahalu. Agar kau ingat janji yang pernah kau beri untuknya. Akhirnya perempuan itu diam dan menerima luka yang dirasakan seorang diri.

Tidak ada cinta hari ini untuk perempuan itu.

Yang ada hanya air mata yang terjatuh, untuk melepaskan emosinya. 

Perempuan itu berlari, menulis rasa dan menyembunyikan luka hati pada puisinya. Karena perempuan itu adalah perempuan yang menyukai puisi.

Perempuan itu kembali meratapi dirinya karena apa yang kau lakukan. Tak bisa mempertahankan diri dari kesadaran, perempuan itu telah kalah. Perempuan itu membiarkan dirinya kalah pada pelukan kesunyian.

Perempuan itu melihat ketidakadilan yang kau lakukan, apa perempuan itu tidak berharga di matamu. Hingga kau selalu menyudutkan dan berbuat sesukamu terhadap dirinya.

Perempuan itu tidak pernah merdeka darimu. Selalu dikejar-kejar kecemasan. Dan lebih memilih diam juga sunyi untuk menghabiskan samudera waktu yang dipunya. Menenggelamkan diri pada puisi yang akan ditulis, karena puisi tak akan pernah mengkhianati perempuan itu.

***
Rantauprapat, 21 September 2020
Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar