Kamis, 10 September 2020

Dia, Perempuan yang Memadamkan Harapan

@kulturtava
...

Sulit mendefinisikan penerimaan melalui lisan. Saat kebenaran mengetuk nyata hidup. Terlalu banyak ketakutan yang terbawa di hati. Bersama air mata yang basah di wajah, ada redup yang dirasakan.

Cerita yang tersimpan akhirnya telah terungkap, seketika kesejahteraan pun tak lagi memayungi. 

Ada harap yang dia bangun. Harapan untuk bisa mengalami dan bertemu dengan cerita yang tersembunyi itu. Sepertinya dalam dirinya ada marabahaya, sehingga untuk menggapai harapannya adalah sesuatu yang disebut "KETIDAKMUNGKINAN".

Mempertanyakan Tuhan, kenapa tidak membantu dia menggapai harapannya. Walau sebenarnya dia tahu, dia tidak berhak mempertanyakan Tuhan dan tidak semua pertanyaan ada jawabannya. 

Sebenarnya dia tidak ingin singgah pada luka karena terlalu berharap, namun sudah lama dia terluka karena berharap pada hal yang mungkin tidak akan termiliki olehnya. 

Akhirnya, dia mencoba untuk memadamkan harapan. Harapan yang sesungguhnya ingin dia dapatkan.

Dia pun bersepakat pada sifat antagonis dan protagonis yang terkadang membuat gelisah. Untuk terlihat baik, dia memilih bertopeng. Sekalipun itu topeng kepalsuan.

Itu hidup yang dia jalani. Dia, perempuan yang memadamkan harapan. Harapan terhadap hal yang baginya adalah kesia-siaan.

***
10 September 2020, 15:32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar