Selasa, 08 Februari 2022

Ternyata Dia Bukan Rumah

@kulturtava
...
Payah.
Bodoh. 
Sedari awal jangan bermain dengan hati. Baiklah, menangislah seperlumu, kau butuh itu. Sedang terluka, tidak usah berpura-pura kuat, kau perempuan biasa. Cobalah merdeka dari perasaan yang sudah terbangun.

Kau dan dia tak akan pernah terjangkau. Di sini, di sana, di mana-mana, kau yang akan dipersalahkan. Tidak ada cinta yang benar untuk rasa di antara kau dan dia. Dia bukan tidak tahu jawaban dari harapan yang kau bangun, tapi kau sudah tahu jawabannya. 

Dua tahun kau mengira, dia akan menjadi rumah, dia memberi harapan untuk itu, kau biarkan dirimu jatuh pada harapan. Ini akibat kesadaran pun kebenaran ditinggal pergi, terperosok dalam keegoisan. Berkompromi dengan kesalahan.

TERNYATA DIA BUKAN RUMAH, ada cinta yang lain dalam relasi kau dan dia. Kau perempuan yang tidak diinginkan, tidak pernah sekalipun. Pegangan hidup bijak yang pernah disampaikan, itu hanya demi menenangkan perasaan, kau terperdaya. Bahkan saat dia memanggil namamu dengan manis, kau terbuai. Hati yang tidak hati-hati, berengsek bukan. Boom, ada air mata, ledakan besar seperti senggatan petir. 

Dia tidak akan pernah jadi rumah yang kau kira. Hello, sadarlah. Berhenti, bukan cukup dengan berhenti, tapi blokir segala hal tentang dia dalam isi duniamu. Itu sulit, bukan berarti tidak bisa. Sayangi dirimu sendiri. Selesai! 

***
Rantauprapat, 07 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar