Jumat, 11 Februari 2022

Perihal Mengeja Perasaan

@kulturtava
...

Saya sesak napas. 
Berharap kesejahteraan saya merupakan kesejahteraan anda.
Tidak tahu, apa pernah merasa kasih sayang yang benar-benar benar dari anda. 
Ucap dan realita tidak sinkron, lebih ke anarkis yang saya rasa. 

Bagi saya, anda mencipta ambigu. Perihal mengeja perasaan, terkadang layu oleh angin timur, terkadang bersinar oleh angin barat. Ada tawa, lebih condong pada air mata. Walau demikian, anda tetap cinta istimewa. Kampung halaman bagi saya.

Pada hari itu, tentang sejarah yang dahulu kembali terulang, saya menuai kemarahan. Anda mencipta badai, pun tentang maaf dan terima kasih yang tidak pernah terucap, tetap saja saya yang harus dilarutkan dengan penerimaan. Sebab, kisah saya tidak akan pernah ada tanpa anda. 

Perihal mengeja perasaan, saya yang bertanggung jawab atas segala sesuatu dengan hati saya sendiri. Untuk apa lesap di hutan rasa dan pikiran yang penuh kemarau. Karena hidup punya kesusahan dan keajaiban sendiri. Penuh teka-teki yang tidak pernah diduga-duga.

Dan, ketika sepertinya kesejahteraan saya bukan merupakan kesejahteraan anda, saya akan berkompromi pada hal itu. Saya tetap ingin anda ada dalam teka-teki zaman yang dilalui oleh saya. Barangkali terlihat dan terdengar aneh, tapi yang mengetahui latar belakang anda dan saya ya saya sendiri.

***
Rantauprapat, 11 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar