@kulturtava
...
Anda berharap, perempuan itu mampu menjadi perempuan dewasa yang bertumbuh, bahwa hidup itu tak henti tuk belajar dan menerima pun menjalani kenyataan. Ia harusnya tahu bahwa hidup penuh dengan kejutan yang berakhir pada kata tidak juga penolakan, penuh ketidakadilan.
Perempuan itu harus mampu ikhlas dalam teka-teki zaman yang dilalui. Tidak harus berpangku pada kelemahan apa lagi ketidakpenerimaan. Bukankah hidup tidak pernah berkompromi dengan keadaan, hidup tetap melaju apa pun keadaan yang terjadi. Karena itu, perempuan itu harus menjadi seseorang yang tabah, pun memiliki pegangan hidup yang bijak dalam hidup.
Perempuan itu tahu, anda tidak ingin ia selalu patah, menjadi perempuan yang menyedihkan. Anda percaya, perempuan itu mampu menjadi perempuan dewasa yang benar-benar dewasa. Memiliki hari-hari yang penuh cinta, tanpa formalitas, tanpa bualan belaka.
Benar, ada masa-masa di mana perempuan itu lemah, terpuruk, terluka. Membuat ia menangis. Itu wajar, manusiawi. Walau demikian, anda mau ia tetap semangat dan mampu menghapus air mata dengan kesadaran juga mampu menggunakan akal pun mendengar suara hati sesuai porsinya. Bagaimana perempuan itu bersikap, bisa menjadi cerminan diri. Berujung duka atau bahagia, perempuan itu bisa menentukan pilihan.
Ia tidak boleh berhenti lelah lesu dalam ketidakberdayaan, apa lagi sampai tidak menikmati hidup. Karena banyak seni dan cara-cara dalam menikmati hidup dan menghidupi pegangan hidup.
Anda tahu atau tidak, bagi perempuan itu anda adalah gandum yang ada di hatinya. Penerimaan anda itu penting untuk dimiliki, cara anda memanggil perempuan itu dengan sebutan "Lusyku" adalah kebahagiaan yang indah pada perempuan itu .
***
Rantauprapat, 05 Februari 2022
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar