Selasa, 02 Februari 2021

Sungguh, Kegirangan Melayu

@kulturtava
...
Menangis. Meratap. Sebab, sudah dirampas dari hati perempuan itu sebuah kesejahteraan. Telah dibuatnya pohon keyakinan perempuan itu menjadi musnah. 

Ia, seperti berlilitkan kain kabung. Karena cinta baru yang tumbuh di hatinya. Sungguh, kegirangan melayu dari antara hati. Sudah lenyap sukaria.  Hari ini, ia menjerit karena takut kehilangan. 

Dingin malam sudah menyapa. Terasa gelap gulita, kelam pekat dan kelam kabut. Ia gementar dalam sepi dan isak tangis. Bahkan, tak ada yang merayu isak tangis perempuan itu lagi. Ia ingin berbalik tapi sulit. Ia tak ingin menyesal atas cinta baru yang tumbuh di hatinya.

Dua hari di perjalanan Februari, penuh ketidakpastian yang sempurna. Seperti teka-teki zaman yang sulit terdefenisikan. Entah seperti apa, ia menyusuri jalan di kepala malamnya. Hari ini yang kemudian menjadi hari itu, telah menjadi malang. Sejarah yang dahulu kembali terulang, sejarah perpisahan. Akankah benar-benar terjadi? Sesuatu yang sebenarnya belum pasti dimulai, tapi pasti diakhiri.

Ditinggalkan dan dilepaskan dari hati. Diam, membisu dan ada jeda yang terjadi. Jeda yang memberi kesenjangan. Ahh, sungguh kegirangan melayu dari hati. Mendung terjadi di mata perempuan itu. Ia tiduri sepi dan membiarkan sedu sedan dan angin malam menerpa jiwanya. 
 
Detik ini seakan lambat berlalu. Wahai, hari ini, perempuan itu hanya ingin menepi. Dan cinta itu, biarlah menemukan jalannya sendiri. Di sini, di Sumatera, perempuan itu tak tahu bagaimana setelah malam ini. 

Ia hanya ingin menghapus air matanya dan tertidur, semoga tertidur dan memejamkan mata walau dalam tangis sekalipun. Oh, kegirangan melayu dari hati perempuan itu.

***
Rantauprapat, 02 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar