@kulturtava
...
Kali ini, ia kembali berlilitkan kain kabung. Sungguh, kegirangan melayu dari hati perempuan itu. Ia telah memilih membuka hati, ia harus siap jika menangis karena duka hati. Ia tahu benar, bahwa hati merupakan sesuatu yang sulit terdefenisikan.
Ada jeda yang menggetarkan perempuan itu. Entah akan berujung seperti apa? Tak ada kelegaan yang terasa. Perempuan itu menjadi gusar terhadap perasaannya. Ia berlambat-lambat untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Ia tertindas karena rasa yang salah. Rasa yang berlebih. Perempuan itu ingin menyimpang tapi sekarang ia takut, takut kehilangan. Duka ini tak melapangkan hati perempuan itu. Jeda ini menggetarkan jiwanya. Ratapan membelit perempuan itu.
Lagi, ia bersekutu dengan rentetan kemalangan. Duka hati telah menindas perempuan itu. Habis mata perempuan itu oleh air mata. Bilakah ada yang menghiburkan perasaannya? Agar ia tak sesat dan mencondongkan hati pada kedegilan hati.
Benar. Sesungguhnya, perempuan itu hendak tenang teduh dalam sukacita. Ia ingin berpaling. Tak ingin berkarat dalam kesusahan dan kesesakan jika menangis karena duka hati terlalu lama.
Perempuan itu ingin luput dari sengsara. Ia ingin mampu memelihara diri dari kesukaran. Biarlah ketenteraman dan kesejahteraan menjadi milik perempuan itu. Agar ia tak sesat seperti domba yang hilang.
***
Rantauprapat, 04 Februari 2021
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar