Painting by Arthur Briginsky
...
Padamu cinta tak bersembunyi. Entah mengapa, kamu menjadi penghapus duka. Bersejarah baik pada semestaku. Saat keangkuhan dunia buatku tertunduk, ada cinta darimu yang memberikan nada-nada keindahan.
Ah, dasar hati yang mudah jatuh pada hati yang tak selaras dalam beribadah. Sujudku dan sujudmu, tidak berakhir pada Tuhan yang sama.
Kuharap, kita diizinkan bersama dan bersatu. Akankah kasih sayang Tuhan memberi kita kesempatan. Berbusana keikhlasan, aku memilih mencari Tuhanmu. Memilih untuk mencari secercah terang, sebab telah lama aku sibuk menganggumi sosokmu yang mampu hadirkan tenang teduh dalam hatiku.
Kamu mampu punahkan sunyi sepi yang terbit atasku. Di perjalanan, saat aku mencari Tuhanmu, aku dihadapkan pada segala kebenaran dan itu pun kamu juga yang menyuarakan suaramu. Cinta itu tak bernoda, tapi tidak setiap cinta harus dimiliki. Terkadang, suara itu penyelesaian bukan
Pada impian dan asa yang kuharapkan. Pada yang kuusahakan, itu adalah kesia-siaan, aku dikurung pada sesuatu yang pandir. Bermata gelap hanya karena ego. Seakan menjadi manusia berpangkat Tuhan. Dan, aku sadar. Saat aku mencari Tuhanmu, aku menemukan Tuhanku. Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan yang pada-Nya cintaku harus lebih utama. Mencintai Tuhan sepatutnya lebih dari apa pun.
Ini bukan tentang kekang keegoisan yang dipertahankan. Ah, aku tak akan menjadi pembangkang dari Tuhanku. Dan kamu itu seperti air gula. Manis. Namun, terkadang cinta memang begitu. Tak selalu memberi hal yang manis, ada untuk dinikmati. Kamu air gula dan cerita yang sudah mengunjungi duniaku dengan kebaikan. Sepertinya pada kisah kita, di sana tertulis : kita tidak berujung pada satu narasi yang sama.
Kita akan baik-baik saja dan harus mau mengeja rela dan ikhlas.
Terlebih aku.
***
Rantauprapat, 03 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar