@kulturtava
...
Kepada : L
Sudah banyak malam yang kamu lalui dengan ketidaktenang teduhan, lantas apa yang kamu dapatkan? Kamu dicekam kekhawatiran yang berlebih, tanpa malu-malu kamu pun merayu dosa. Hanya untuk melupakan kesedihan.
Mengapa kamu tidak hati-hati pada hati. Barangkali, kamu sudah tahu ketidakberdayaan kapan saja bisa datang. Di sebuah bilik pengakuan, kamu pernah mengaku sebagai pendosa yang payah. Mengubah diri menjadi kaku, menjadi seseorang yang bukan kamu. Menjadi kaya dalam kepandiran.
Merelakan hujan ratapan yang seharusnya tidak kamu rasakan menyentuhmu dengan leluasa bahkan mendekapmu dengan hasrat yang dingin. Kamu dibebani rasa takut yang sesungguhnya tidak begitu, mengkhawatirkan hari esok. Padahal hari esok belum tentu milikmu. Dan cobalah mengerti, tidak setiap pertanyaan ada jawabannya.
Aku melihat dan mendengarmu dari bilik pengakuan. Tanganmu gemetar, rambutmu basah, menahan rasa perih dan cemburu yang begitu hebatnya. Dalam diam kamu menangis. Mengeluarkan hujan air mata pada sesuatu yang sebenarnya tidak begitu perlu. Dan, aku tak lagi ingin melihat kamu seperti itu.
Harus kuakui bahwa hidupmu tidak mudah, namun selagi kamu masih hidup berjuanglah untuk hidup dengan layak dan menjadi seseorang yang tabah. Setidaknya untuk dirimu sendiri. Aku tak ingin, kamu berada dalam lingkaran jiwa yang sedu dan rapuh.
Kepada L, berdasarkan apa yang tidak ada padamu, berdasarkan yang bukan bagian hidupmu, maka hendaklah sekarang ini kamu mengerdilkan hasrat untuk itu. Inilah pendapatku tentang hal itu. Jangan memandang pilu kebahagiaan orang lain, jangan memandang pilu ketika kamu diabaikan. Apa lagi sampai meracuni hatimu sendiri.
Ah, biarlah. Biar bila aku berharap.
***
Rantauprapat, 08 Januari 2021
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar