Rabu, 07 Agustus 2024

Rindu dan Ketidakpastian, Diam-diam Merindukan Kamu

@kulturtava
...

Sial, tadinya berharap semestaku tanpa kamu, akan baik-baik saja, tapi dasar aku bodoh. Karena masih saja gagal untuk benar-benar selesai terhadap kamu. Jadi aku masih sering memilih gaduh dan tengkar terhadap hati dan kepalaku dan sulit untuk bersikap bodo amat. Dengan rela memilih diam-diam merindukan kamu.

Dulu aku menyukai perhatianmu, tidak tidak bukan hanya dulu tapi sampai saat ini ketika tulisan ini ada aku masih menyukai perhatianmu. Kamu masih menjadi seseorang yang melemahkan hatiku, melukaiku tapi dengan nakalnya malah membiarkan itu terjadi terus-menerus. Aku ingin berhenti terhadap kamu. Tidak ingin mengingatmu. Tapi hatiku tidak tahu cara untuk berhenti. Bertahun-tahun aku menelan marah, mematahkan harapan, entah kan berujung di mana. Biarlah seperti itu.

Biarlah ini menjadi cerita yang tersembunyi. Perjalanan yang panjang seperti lagu kehidupan. Ada sedih dan bahagia. Juga ada luka, dasar hati. Ah, sialan! membiarkan cinta tumbuh tanpa batas dan aturan. Hahah. Aku tahu dan sadar bahwa sejujur dan sebenar-benarnya tidak akan ada cinta yang benar-benar cinta antara aku dan kamu. Dan sialnya, akan ada saja tawa jika gaung ingatan perihal kita yang dahulu mengganggu isi kepalaku.

Perbincangan malam ini menitipkan pertanyaan di kepalaku, apa artinya ini? Aku termangu-mangu melihat luka yang akhirnya kembali mengganggu kepala dan diingatkan oleh waktu. Toh, aku sering terlupakan tapi untuk melupakan hatiku sulit. Banyak drama, barangkali juga dendam. Terlalu banyak tipu daya, menjadi korban, tersangka dan juga terdakwa atas peristiwa liar yang dibiarkan terjadi. Parah, membiarkan ini terjadi terus-menerus.

Karena desah nafasmu, masih berhasil mengusik kepalaku. Boom, daya tarik apa yang ada padamu hingga masih membuatku seperti ini? Terlalu gagu dan gamang, sudah sangat lama ingin melarikan diri dari bayang-bayang tentang kamu tapi malah terjebak di hutan kenangan. Asu bukan, sialan memang.

Lantas, siapa yang akan disalahkan jika aku mabuk oleh masa lalu? Kamu atau aku? Entah. Karena aku tak pernah ingin berakhir sebagai daun jatuh, walau faktanya aku masih saja jatuh.

Aku yang tak pernah cukup. Mengilai hal-hal bodoh yang berisik. Lebih dari sekali aku diam-diam merindukan kamu padahal tidak ada cinta yang benar-benar cinta perihal kita. Bukankah aku harusnya tidak mengiakan segala keliaran demi keliaran yang membuatku harus basah oleh hujan, aku harus mengusahakan agar baik-baik saja tidak malah menumbuhkan onak, hingga aku akan terbata-bata dan menjalani hidup yang tidak mudah lebih lama lagi. 

Aku pernah buas pada kepuasan. Pernah bukan berarti tidak bisa berhenti, semoga semesta mendukungku. Aku terkadang bodoh karena kenyamanan tapi bukan tidak berakal. Aku harus berhenti dari khilafku.

***

Rantauprapat, 30 Juli 2024

Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar