@kulturtava
...
Pagi yang lain hari ini. Sebuah percakapan dengan banyak hujan. Hujan kebohongan dan tipu daya. Tentang rasa curiga yang lebih pada tuduhan. Waktu yang bersisian dengan hati. Tergoda pada ucapan perempuan itu.
Kutahu, kamu lebih percaya perempuan itu dari yang harus dipercaya. Ke mana ia melangkah dan melintas, dengan tergesa kamu akan ikut. Saat langit perempuan itu berwarna pucat dan kelabu, kamu pun demikian. Menggelayutberati arah ke dalam jerat perempuan itu. Kukira ini berlebihan. Tetap saja kamu tak pernah mendengar suaraku.
Kamu tahu bahwa perempuan itu seperti duri yang menusuk lambungmu, kenapa tetap memberi ruang baginya? Menjadi hening untuk segala keseluruhan perempuan itu. Lantas untukku dan untuk cinta yang ada di hatimu, menjadi riuh yang menyebabkan kesulitan. Ini bukan hanya sebuah opini apa lagi dugaan, ini kebenaran. Ketika bersama perempuan itu, kamu tidak lagi ingat yang lain. Semakin lesap dan menjauh dari seseorang yang harusnya menjadi rumah bagiku.
Perempuan itu sering menjadikan kamu seseorang yang tidak memiliki kasih yang paripurna.
Barangkali benar, kamu harus memberi cinta untuk perempuan itu. Namun, cinta yang lebih besar itu untuk aku dan cinta yang sudah ada di hatimu. Aku merasa sesak pagi ini. Pagi yang aneh, memberi huruf-huruf mati, rekam jejak yang beraura negatif. Buatku berada di entah. Sungguh ada rasa ingin menanduskan perempuan itu. Membumi hanguskan segala hal tentang dirinya, agar ia tidak mendekatimu.
Jika aku bertanya padamu, siapakah yang menempati ruang paling prioritas di hati dan pikiranmu? Sepertinya, perempuan itu yang menjadi jawab. Perempuan payah, yang sungguh seperti duri yang menusuk lambungmu. Pandai bermain kata-kata. Perempuan itu benar-benar menyusahkanku.
Kapan kamu akan mengerti perihal cinta dan mencintai, kembali ke tempat yang semestinya? Itu hanya rahasia yang benar-benar belum kuketahui jawabnya. Dan yang masih menjadi harapku, kamu akan menjadi tenang teduhku, kesejahteraan bagiku dan cinta yang sudah ada di hatimu sejak lama.
***
Rantauprapat, 09 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar