Minggu, 06 Maret 2022

Prahara Perempuan Itu Hari Ini

@kulturtava
...
Etika dalam berbicara, tidak diterima perempuan itu. Dikasari, diberi kata-kata pedas. Seolah ia tidak berharga. Hari ini perempuan itu berkunjung ke dalam berbagai-bagai duka. 

Apa karena perempuan itu terbatas dalam banyak hal, ia harus membiarkan diri menerima pembiaraan seperti itu? Ia kepayahan untuk memerdekakan hati, malang. Sunyi sepi ada di hari ini.

Gagal menata hati menjadi teduh. Kisah yang terjadi hari ini buat perempuan itu terpaksa melarikan diri dari kejujuran. Berpalsu diri. Hari penuh ketidakadilan. Tidak ada senyuman, tidak ada kebaikan. Asing dan menjadi hambar.

Prahara perempuan itu hari ini, terjadi ledakan yang menyebabkan hati terluka. Waktu seolah tidak bersahabat dengan kesejahteraan. Perempuan itu adalah pengungsi, gejolak dari prahara yang terjadi hari ini. Ia sadar diri, memilih untuk menepi, diam dan tidak berkomentar. Itu hanya untuk menjaga kesehatan mental.  Menenun kebaikan bagi dirinya sendiri.

Sebelum malam ini berganti dini hari, perempuan itu ingin menghidupi penerimaan. Berdamai dengan keadaan dan diri sendiri. Untuk apa lesap dari hidup hanya karena prahara yang terjadi hari ini. 

***
Rantauprapat, 06 Maret 2022
Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar