Rabu, 22 Juli 2020

Pukul Tujuh Lebih Tujuh Menit Pagi

Pixabay
...
Entah apa yang kurasakan di hatiku 
Aku menyukai perputaran waktu saat detik menunjukkan pukul tujuh lebih tujuh menit pagi

Pukul tujuh lebih tujuh menit pagi
Aku tak menyembunyikan diri dari keramaian aksara
Aku abjad yang menggoda 
Kau kata yang menyelaraskannya hingga menjelma menjadi kalimat yang bermakna 

Pukul tujuh lebih tujuh menit pagi
Aku mulai menghamburkan diri ke dalam simfoni bait-bait syair
Aku pun melukis warna di galeri diksiku
Kau adalah peristiwa di dalam kanvas kataku

Pukul tujuh lebih tujuh menit pagi
Aku membenamkan dan mendamparkan diri pada virus sastra 
Kau membawa cerita untukku
Aku pun menulis untukmu

Pukul tujuh lebih tujuh menit pagi
Aku melepas rindu melalui puisi 
Kau jatuh cinta pada puisi 
Aku dan kau sama-sama menikmati seni yang terperangkap pada puisi 

Di hariku, pada pukul tujuh lebih tujuh menit pagi
Aku meninggalkan kesendirian dan kesepian 
Aku tak ingin kecurian waktu untuk melemparkan pandangan, mencari dan menemukan makna dari indahnya aksara yang diinginkan hatiku
Kau pun menemukan diriku dalam aksara yang telah kuselesaikan dan akhirnya kau baca

Kemudian aku mengerti dan menyakini, kenapa aku menyukai pukul tujuh lebih tujuh menit pagi?
Aku bahagia dan bersukaria dengan pohon kata-kata 
Aku pun bisa tersenyum melalui kata yang kutulis, dan menjadi tulisan yang utuh 
Kau juga ada di dalam tulisan-tulisanku, dan menjadi sejarah di semesta perasaanku juga di wajah kehidupanku

***
Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar