Rabu, 11 Agustus 2021

Lagi, Perempuan Itu Seperti Ikan yang Terperangkap dalam Jala yang Mencelakakan

@kulturtava
...
Perempuan itu dan sebuah kisah kekalahan.

Keterbatasan.
Sendiri. 
Takut. 
Khawatir yang berlebih.
Dosa yang merayu.
Enggan namun tidak bisa menolak.
Membuka gelap dan membawanya masuk.
Membiarkan lagu patah hati bersenandung dengan indah. 
Layu dan menjadi duka. Tegar teguh seolah kadaluwarsa dan Rest In Peace.

Mencintai cinta orang lain. Menuntut penerimaan lebih. Bukankah itu menunjukkan kekeliruan. Sepertinya oksigen kesadaran sudah mengasing dari hati.  Mengapa hal yang benar, sulit menetap di musim hidup? Bermain-main dalam waktu yang malang. Lagi dan lagi perempuan itu seperti Ikan yang terperangkap dalam Jala yang mencelakakan. Buat diri berjalan dalam kegelapan. Lesap dan terbunuh dari tenang teduh. Parah. Payah. Bum,  Sial bukan. 

Kata-kata, ingin berhenti. Ingin menyudahi kisah yang berbahaya. Lagi-lagi gagal. Kalah dan hancur berkeping saat tidak ada yang mampu memahami. Ilustrasi demi ilustrasi yang merayu diri tentang romantika kebahagiaan terlalu menduduki jiwa dan pikiran. Hingga lupa tentang hidup yang memang tidak pernah adil. Ketidakberhasilan, keterasingan bukan semestinya buat jiwa bermekaran pada hari-hari yang sendu. Ya, seperti Ikan yang terperangkap dalam jala yang mencelakakan.

Hu, rumit memang. Bahkan jauh lebih rumit.
Saat diri bertanya berulang kali, rasa sayang yang seperti apa yang ada? 
Ternyata, hanya diam panjang yang menjadi penghuni tetap di setiap jawaban.

Ada yang menawarkan penerimaannya. Penerimaan yang beraroma manis. 
Memberikan cinta.
Cinta yang membuat diri merasakan nikmatnya peraduan hasrat yang menggoda.
Tapi cinta itu cintanya orang lain.
Menolak, tak mampu.
Menerima, lebih tak mampu.

Ingin menjalani hidup yang seperti apa? 
Apakah sanggup menyembunyikan diri dari kesalahan? 
Meninggalkan kepura-puraan.
Seolah membual. Ingin berhenti, ternyata kekalahan yang tercipta. Sejarah yang dahulu kembali terulang. Menjadi perusak. Menjadi pelaku dan terdakwa dalam penembakan yang buat detik air hidup berhenti.

Sampai berapa lama lagi,  bercengkrama dan basah oleh hujan yang tak seharusnya? 
Apakah akan ada jalan yang berbeda untuk perempuan itu? 
Secepatnya, ia harus menemukan jawabannya. Agar tidak menjadi abu-abu. Dan melahirkan prahara bahkan penyesalan yang tak termaafkaan.

Malam tadi, perempuan itu sadar untuk berhenti dan menyudahi kisah yang berbahaya itu.

***
Rantauprapat,  20 Juli sd 10 Agustus 2021
Lusy Mariana Pasaribu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar